Bangkalan.kliksurabaya.co.id – Seberapa murid kelas X Madrasah Aliyah Sabilur Rosyad berlarian cepat memasuki kelas. Tak lama, kelas mulai. Hari itu, Bu Hanifah, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas, punya rencana pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya. Ia tidak langsung memulai kelas dengan bercerita. Anak-anak justru diajak berjalan menuju perpustakaan madrasah. Sebagian tampak heran. Biasanya perpustakaan mereka kunjungi kalau ada tugas merangkum, meminjam buku paket, atau sekadar mencari tempat sejuk ketika jam kosong.
Bu Hanifah ingin anak-anak melihat perpustakaan bukan sebagai gudang buku, melainkan sebagai laboratorium ilmu. Perpustakaan harusnya menjadi tempat murid belajar bertanya, mencari, membaca, mencatat, berdiskusi, dan menyimpulkan, lalu menggunakan pengetahuan untuk menjawab persoalan kehidupan.
Sebelum masuk, Bu Hanifah berhenti di depan pintu perpustakaan. Ia meminta anak-anak menurunkan suara. Setelah tenang, Bu Hanifah berkata pelan, tetapi terdengar jelas.
“Anak-anak, hari ini kita tidak hanya belajar tentang buku. Kita belajar bagaimana mencintai ilmu. Orang yang mencintai ilmu tidak datang ke perpustakaan hanya untuk mencari jawaban cepat. Ia datang dengan hati yang rendah, mata yang ingin membaca, dan pikiran yang siap menerima ilmu.”
Lalu ia menuliskan tema pembelajaran di papan kecil dekat meja pustakawan: “Perpustakaan Madrasah sebagai Laboratorium Ilmu”.
Pembelajaran ini dirancang dengan pendekatan experiential learning melalui empat langkah ARKA: Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi.(***)
